Kisah para cum-lauders (part-13): Trio cum-lauders dari Garut

Cum-lauders, sebutan teman-teman mahasiswa Prodi Pendidikan Teknologi Agroindustri (PTAg) UPI kepada rekannya yang berhasil meraih cum laude (lulus dengan pujian), suatu predikat kebanggaan bagi mereka yang dapat meraih IPK di atas 3.51 dengan masa studi tidak lebih dari 8 semester. 

Agus Tendi Ahmad Bustomi (Tomi), Enjang Rohman, Rama Tiyana yang ketiganya berasal dari Garut dan lahir di tahun yang sama, 1998, juga sama-sama diterima menjadi mahasiswa UPI di tahun 2017 melalui jalur beasiswa bidik misi, berhasil lulus di akhir semester 7 dengan predikat cum laude.

Sidang yudisium, 29 Januari 2021 menjadi momen spesial bagi ketiganya yang dinyatakan lulus dan menjadi tiga orang pertama di angkatannya yang meraih gelar S.Pd.

Bagaimana kesan trio cum-lauders atas gelar barunya?

“Alhamdulillah….”
“masih kaget”, 
“rasanya nano-nano”, 
“masih belum percaya”, 
“semester 7 ini memang luar biasa. Kami mengerjakan berbagai proyek, kegiatan dalam waktu bersamaan.”

Pandemi tidak menjadi halangan dan alasan untuk bersantai, justru sebaliknya. Sistem daring yang diterapkan dalam berbagai aktivitas akademik baik perkuliahan, seminar, KKN, juga PPLSP (Program Pengenalan Lapangan Satuan Pendidikan) memberi hikmah tersendiri bagi ketiganya. 

KKN yang biasanya dilaksanakan di suatu desa, pada semester 7 lalu dilaksanakan secara daring. Demikian juga dengan program PPLSP, program sejenis magang atau praktik mengajar yang biasanya dilaksanakan di sekolah mitra yaitu SMK APHP (Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian), dikarenakan proses pembelajaran di SMK pun daring, maka PPLSP pun didominasi kegiatan daring.  Hal ini dimanfaatkan oleh Enjang, Rama dan Tomi untuk mengoptimalkan waktu yang mereka miliki, terlebih proses pembimbingan skripsi dengan dosen pun dilakukan secara daring. 

Trio cum lauders ini juga berkesempatan menjadi anggota tim riset pengembangan biobriket bersama dosen pembimbingnya. Proses riset tersebut memberi kenangan tersendiri yang tak terlupakan bagi ketiganya. Output riset tersebut dituangkan kedalam artikel ilmiah untuk dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi. Selain itu, sempat juga terlibat dalam riset pengembangan biodegradable PLA (Poly Lactic Acid) bersama dosen dan rekan lainnya di prodi PTAg, juga kegiatan pengabdian kepada masyarakat mengenai pemanfaatan kulit melinjo.

Bagaimana mereka membagi waktu untuk mengerjakan semua tugas dan amanah tersebut?

“Saat ada jeda PPLSP, kami mencicil untuk menulis artikel ilmiah, begitupun sebaliknya. Setiap ada waktu luang, benar-benar harus dimanfaatkan agar semua pekerjaan dapat selesai.”

“Saya selalu ingat apa yang pernah disampaikan teh Lili dan teh Sari, kalau lagi PPL jangan ada alesan “ah cape”, mau istirahat dulu, tak boleh begitu, maksimalkan waktunya. Ketika PPL harus sudah memulai bimbingan skripsi dengan dosen, usahakan bisa mengambil data penelitian saat PPL”, demikian Enjang mengingat tips dua kakak tingkatnya, alumni Prodi PTAg yang berhasil lulus cepat dengan predikat cum laude.

Enjang dan Rama bahkan sempat disibukkan dengan PKM di awal semester 7 lalu. Keduanya bersama adik tingkatnya, Sarah Amelia berhasil mendapatkan pendanaan hibah PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dari Kemendikbud. Berhubung pandemi, semua aktivitas PKM dilakukan secara daring. Salah satu luaran PKM tersebut yaitu artikel ilmiah telah dipresentasikan dalam seminar internasional TVET conference pada November 2020 lalu. 

“Alhamdulillah, rasanya semua usaha, perjuangan, kerja keras, kelelahan itu, kini terbayar.”

Usaha tak mengkhianati hasil. Ketika kita mengidamkan suatu puncak capaian, pastikan juga kita bersungguh-sungguh meniti puluhan atau bahkan ratusan tangga untuk mencapai puncak tersebut. 

Selamat trio cum-lauders dari Garut. Semoga menjadi inspirasi untuk semuanya. Barakallahu fii kum.

(bersambung…)