Kisah Para Cum Lauders (part 1): Kuliah sambil Pesantren? Bisa!

” Jalan yang adik-adik pilih (kuliah sambil pesantren), adalah jalan yang tepat, karena tidak semua orang Allah takdirkan seperti ini. Waktu yang dimiliki oleh setiap orang, sama, yaitu 24 jam. Tapi dengan waktu yang sama itu tidak semua menghasilkan sesuatu yang sama,, Dengan 24 jam tersebut, bisa jadi ada orang yang disibukkan dengan hal baik ada juga yang buruk.. tergantung dari kita, orang yang menggunakannya”

Nasihat Aa Gym (KH. Abdullah Gymnastiar) itulah yang selalu terngiang, menjadi penyemangat, kala lelah melanda menjalani peran sebagai mahasiswa prodi Pendidikan Teknologi Agroindustri (PTAg) UPI sekaligus santri Daarut Tauhid (DT). Bagi muslimah kelahiran Sukabumi, 10 April 1995 ini, nasihat-nasihat itulah yang membangkitkan semangatnya untuk terus menuntut ilmu dan mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, terlebih jika Aa Gym sudah memberikan taushiyahnya:
“Kuliah itu amal soleh, sok temukan Allah disana. Banyak dzikir, sing banyak tobat. Sing berkah ilmunya, sing jadi guru yang diridhoi Allah”

Ridho Allah, itulah yang menjadi motivasi bungsu dari 5 bersaudara ketika memilih nyantri di DT sambil kuliah. Isna, begitu sapaan akrabnya, diterima sebagai mahasiswa UPI pada tahun 2013 melalui jalur SNMPTN beasiswa bidik misi.

Pada tahun pertama dan kedua studinya, setiap pekannya ia rutin mengikuti program BBQ (Bimbingan Belajar Qur’an) di DT. Program pekanan itu rupanya kurang cukup lama, hingga pada tahun ke-3 kuliahnya, Isna memutuskan untuk mengikuti PPM 9 (Program Pesantren Mahasiswa angkatan ke-9) yang mengharuskan ia tinggal di asrama menjadi santri DT selama 1 tahun.

Bagaimana rasanya menjalani kuliah sambil pesantren? Mudahkah?

Hectic” begitu komentarnya. Semua mahasiswa prodi PTAg akan paham bahwa perkuliahan di tahun ke-3 luar biasa: dipadati jadwal praktikum, kuliah, tugas mandiri, tugas observasi, laporan praktikum dan dinamika kehidupan kampus lainnya terlebih jika menjadi aktivis organisasi kampus. Selama menjadi mahasiswa UPI, Isna tercatat aktif di beberapa organisasi dalam dan luar kampus, seperti BEM HIMAGRIN, LDK UKDM UPI, FORMASI UPI, IMTEK FPTK UPI, FSLDK BARAYA, Sekolah Digital, KBPPM DT dan DPM HIMAGRIN.

Bisakah ia mengatasi ke-hectic-an tersebut?

Satu hal yang menjadi prinsipnya adalah bahwa ia harus menyeimbangkan antara kuliah dengan kegiatan non akademik, termasuk pesantren. “Bangun harus jam 02.30, ba’da subuh mengikuti KBM pesantren sampai jam 6. Setelah itu adalah waktu untuk kuliah sampai maghrib. Kemudian dilanjutkan kembali dengan KBM di pesantren sampai jam 22.00, terkadang tidur hanya 3 jam, karena tugas kuliah menanti setelahnya;)”

Lelahkah?

“Isna bersyukur bisa kuliah dan pesantren :’)”
“Alhamdulillah, waktu itu Isna selalu mendapatkan bimbingan dan saling berbagi semangat dengan teman-teman santri yang lain untuk tidak melalaikan tugas-tugas kuliah ataupun tugas-tugas pesantren karena hal tersebut merupakan bagian dakwah juga. Kami selalu mendapatkan nasehat dari Aa Gym untuk terus semangat menuntut ilmu dimanapun dan Aa selalu mengatakan kalau mahasiswa adalah salah satu harapan untuk perubahan yang lebih baik”

Pada tahun keempat studinya di UPI, ketika mulai memasuki masa-masa PPL di sekolah, PI (praktik industri), RA (riset agroindustri) dan skripsi, Isna masih menjalani program DT lainnya yaitu program tahfizh (hafalan quran) setiap akhir pekan.

“Semua ini Isna lakukan sebagai bentuk rasa syukur isna kepada Allah juga.. dan ingin memberikan hadiah terindah untuk kedua orangtua.. karena mungkin dengan cara inilah Isna mampu memberikan sedikit ruang kebahagiaan untuk mamah & Bapak..” Isna selalu ingat pesan orangtua, mereka hanya menginginkan isna menjadi sebaik-baik manusia yang berakhlak.

Maka,,bulan Juni 2017 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan menjadi momen yang sangat bersejarah untuk Isna. Sebuah perjalanan panjang penuh hikmah telah dilalui dan pada tanggal 21 Juni 2017, gelar sarjana Pendidikan pun telah sah disandang Isna, melalui sidang yudisium oleh Dekan Fakultas FPTK UPI.

“Sungguh, Isna masih tidak percaya bisa sampai pada titik ini dan melewati semuanya. Terlebih saat Bapak Dekan  menyebutkan namaku lengkap dengan pencapaian prestasi IPK yg telah kuraih: Isnaeni Apriliani – Cumlaude

“Allahu, tak kuasa aku menahan tangis dan tanpa disadari air mataku pun terjatuh membasahi pipi.. “

“Masya Allah, Allahu Akbar.. ini bukan mimpi, ini adalah nyata adanya. Percaya tidak percaya, tapi ini nyata~ Guruku selalu berkata bahwa Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, semua terjadi atas izin Allah. Allah maha baik, Allah maha kaya, Allah maha kuasa atas segala sesuatu.”

“Sore itu aku pulang ke kosan dan langsung memberi kabar kepada kedua orangtuaku atas pencapaian gelar baruku.. Mah, Pak. Punteun pisan teteh teu acan tiasa masihan nanaon ka mamah sareng bapak. Alhamdulillah, teteh tos rengse kuliah”

Allahu, dua malaikat tanpa sayapku pun tersungkur sujud syukur dan menangis haru penuh kebahagiaan.

Mamahku pun menjawab telponku ” Alhamdulillah mamah sareng bapak tiasa nguliahkeun teteh, modal ngado’a, yakin ka Allah”

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

“Kuucapkan banyak terimakasih kepada dosen-dosen dan seluruh keluarga besar prodi Pendidikan Teknologi Agroindustri FPTK UPI yang telah menjadi jalan ilmu untukku. Hanya doa yang bisa ku berikan semoga Ibu dan Bapak dosen senantiasa selalu berada dalam lindungan, rahmat, pertolongan, dan Ridho Allah”

“Fabiayyialaaa irobbikumaa tukadzibaan,,Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
“Lainsyakartum Laaziidannakum..Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu”

Barakallah Isna,, semoga seperti harapan kedua orangtuamu,, menjadi sebaik-baik manusia yang berakhlaq dan bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya manusia..